Lala melanjutkan nasehatnya, "mungkin kamu bisa melawan musuh-musuhmu. Tapi, orang-orang di sekitarmu bisa dalam bahaya jika musuh-musuhmu memanfaatkan kelemahan mereka untuk dapat mengalahkan dirimu."

Lynx menganggukkan kepala, dia sangat berterimakasih atas pesan-pesan yang diberikan Lala dan kakeknya. Kedepannya, Lynx akan sebisa mungkin menutupi jati dirinya.

Di tengah perjalanan, Mochi menghentikan langkah mereka. Dia mengambil beberapa batu kecil dari tanah di sekitarnya.

“Sekarang kita latih refleks dan instingmu,” kata Mochi sambil menggenggam batu-batu itu.

Lynx mengangkat alis. “Refleks? Bagaimana caranya?”

Mochi tersenyum kecil. “Kali ini, aku dan Lala akan melempar batu-batu ini ke arahmu. Kau harus menghindarinya. Tapi kali ini berbeda, kamu harus menutup matamu. Tapi ingat, kamu harus berusaha menghindar dengan gerakan yang efisien dan bukan asal menghindar.”

“Ini akan sulit,” gumam Lynx sambil mengambil posisi siap setelah Lala membantunya dengan menutup matanya.

Mochi dan Lala mulai melempar batu-batu itu satu per satu. Lynx mencoba menghindarinya, tetapi semua batu itu mengenainya.

Lala tertawa melihat tingkah Lynx yang terlihat konyol, menghindari lemparan hanya dengan menebak dan melompat. "Awas Lynx, sebelah kirimu!" Kata Lala sambil melempar batu ke arah kanan.

"Aduh! Lala kau mengerjaiku terus." Kata Lynx kesal.

"Salahmu sendiri mendengarkan kata-kataku." Ledek Lala.

“Kau terlalu tegang,” kata Mochi sambil menggeleng. “Santai, dan gunakan instingmu. Rasakan perubahan di sekitarmu. Jangan hanya mengandalkan telingamu."

Lynx mencoba merilekskan tubuhnya. Dia memperhatikan perubahan energi di sekitarnya dengan seksama. Setelah berulang kali menerima lemparan, Lynx mulai dapat merasakan perubahan energi yang terjadi di sekitarnya, namun tubuhnya terlalu lambat untuk menghindar.

Setelah mengalami kegagalan berulang kali, Lynx akhirnya berhasil menghindar dan menangkap satu batu yang dilemparkan Mochi.

“Lihat, kau bisa melakukannya,” kata Mochi sambil tersenyum bangga.

Lynx tertawa kecil. “Aku hanya butuh lebih banyak latihan.”

“Dan kau akan terus berlatih,” kata Mochi.

Saat perjalanan mereka berlanjut, mereka kembali bertemu dengan makhluk mutasi, kali ini berbentuk seperti kucing besar dengan ekor panjang berduri.

“Lynx, ini latihan yang bagus untukmu,” kata Mochi sambil berdiri di samping Lala.

Makhluk itu melompat ke arah Lynx dengan kecepatan tinggi, tetapi Lynx berhasil menghindar dengan gesit. Dia mencoba menyerang balik dengan tendangan, tetapi Mochi berteriak, “Jangan gunakan seluruh tenagamu! Sesuaikan dengan kekuatan lawan!”

Lynx menarik kembali tendangannya, lalu melancarkan pukulan yang lebih ringan ke sisi tubuh makhluk itu. Serangan itu berhasil membuat makhluk itu terjatuh tanpa membunuhnya.

Binatang itu akhirnya memilih pergi setelah berulang kali gagal menyerang Lynx dan sering terkena dorongan hingga terjatuh meski tidak terluka. Lynx yang merasa memiliki kekuatan jauh melebihi makhluk itu, tidak ingin menyakitinya dan membiarkannya pergi.

“Bagus!” seru Mochi. “Kau mulai memahami konsep kontrol tenaga!”

Lynx tersenyum, “Aku masih jauh dari sempurna, tapi aku merasa lebih baik.” katanya sambil melanjutkan perjalanan mereka.

Sore itu, setelah latihan fisik selesai, Mochi meminta Lynx untuk fokus pada teknik pukulan matahari. Lynx berdiri, menutup kedua matanya, dengan tangan kanan terangkat di depan dada. Dia mencoba mengalirkan energi dari tubuhnya ke tangan kanannya.

Setelah beberapa saat merasakan energi sudah terkumpul di tangannya, Lynx membuka kedua matanya dan memperhatikan energi yang terkumpul di tangan kanannya.

"Luar biasa Lynx, aku bisa melihat energi yang kamu kumpulkan. Baru kali ini aku melihat energi bisa berwujud nyata seperti ini." Kata Lala dengan kagum.

Lynx menatap tangannya dan melihat perbedaan bentuk energi yang dia kumpulkan saat ini dengan energi yang terbentuk ketika pukulan matahari dikeluarkan. Lynx masih ingat saat dia mengeluarkan pukulan matahari, warna di tangannya terlihat bercahaya keperakan, sementara saat ini terlihat putih bercahaya transparan.

"Apakah ini pukulan matahari yang kamu ceritakan?" Tanya Mochi sambil memandangi tangan Lynx.

"Aku rasa begitu. Walau rasanya sangat berbeda." Kata Lynx pelan.

"Berbeda? Apa yang berbeda Lynx?" Tanya Lala spontan.

"Saat aku mengeluarkan pukulan matahari, aku merasakan energi yang terkumpul terasa panas dan tanganku bercahaya keperakan. Berbeda dengan saat ini." Kata Lynx menjelaskan.

"Aku rasa memiliki beberapa teori mengenai hal ini." Kata Lala.

Lynx segera menyimpan kembali energinya dan mendengarkan penuh perhatian penjelasan Lala.

"Kamu sebelumnya belum bisa menghimpun energi ke tubuhmu. Dalam kondisi terdesak, kamu memaksakan diri mengumpulkan energi dari matahari ke tangan. Aku rasa aliran tenaga yang muncul di tanganmu bukanlah energi yang sudah kamu simpan, tapi energi dari matahari yang langsung kamu serap dan langsung alirkan ke tanganmu sehingga energi yang terkumpul lebih banyak daripada yang bisa kamu simpan saat ini." Kata Lala menjelaskan teorinya.

"Lala benar, aku juga memiliki dugaan yang sama. Kita bisa mencoba melatihnya. Kekuatan yang kamu miliki memiliki banyak potensi untuk di kembangkan." Kata Mochi dengan tenang.

Beberapa saat kemudian, mereka memulai latihannya kembali. Latihan yang dilakukan bukan hanya menyerap energi matahari tapi juga latihan untuk bisa 'menembakkan' pukulan itu dari jarak jauh.

Mochi mengarahkan Lynx untuk memulai latihannya dari energi kecil di tubuhnya, dan menembakkan energi itu ke sasaran. Mereka berulang kali mencoba berbagai hal untuk mengeksplorasi apa saja kekuatan yang bisa Lynx hasilkan.

Lala dan Mochi selalu kagum melihat kemampuan Lynx. Bahkan Lala semakin kagum kepada ayahnya yang mampu menciptakan pil kekuatan yang dapat menghasilkan kekuatan seperti ini.

Lala semakin yakin, keputusannya sudah tepat untuk memastikan tidak akan ada orang lain yang akan mendapatkan kekuatan ini.

Meski Lala juga merasa iri dengan kekuatan yang dimiliki Lynx, namun Lala menyadari, setiap orang memiliki takdirnya sendiri, dan Lala lebih memilih kehidupan dia yang sekarang. Dia tidak ingin dipusingkan dengan kekuatan yang dapat menjadi incaran banyak orang.

“Bayangkan energi dari matahari mengalir ke telapak tanganmu,” kata Mochi dengan tenang melanjutkan latihannya.

Lynx mencoba, tetapi tangannya hanya memancarkan cahaya redup sebelum energi itu hilang. Mereka mulai latihan dengan energi matahari. Mochi awalnya tidak ingin Lynx langsung berlatih dengan energi matahari karena menganggap terlalu beresiko jika menggunakan energi yang masih belum dapat dikontrol dengan baik. Setelah pelatihan-pelatihan yang dilakukan Lynx, Mochi merasa Lynx sudah siap untuk berlatih ke jenjang berikutnya.

“Kau terlalu tegang,” kata Mochi. “Biarkan energinya mengalir secara alami.”

Lynx mencoba lagi, tetapi kali ini tubuhnya terasa panas, seolah-olah energinya menumpuk terlalu banyak di satu tempat. Dia terjatuh ke tanah, terengah-engah.

“Kakek! Lynx baik-baik saja?” seru Lala sambil mendekat.

Mochi dengan tenang mendekati Lynx dan menggunakan tongkatnya untuk menotok beberapa titik di tubuh Lynx. Tubuh Lynx segera terasa lebih ringan, dan panas itu mereda.

“Energi yang besar membutuhkan kendali yang besar,” kata Mochi. “Kita coba lagi nanti.”

Setelah berhari-hari mencoba, Lynx akhirnya mencapai titik di mana dia bisa mengalirkan energi matahari ke tangannya tanpa kendala. Cahaya di tangannya berubah menjadi perak bercahaya, membuat Lala terperangah.

“Kau berhasil melakukannya, Lynx!” teriak Lala dengan gembira.

Lynx tersenyum, tetapi dia tahu ini baru permulaan. Mochi, yang berdiri di belakangnya, mengangguk puas.

“Pukulan mataharimu sekarang stabil,” kata Mochi. “Tapi ingat, ini bukan hanya soal kekuatan. Ini soal kapan dan bagaimana kamu menggunakannya.”

Lynx mengepalkan tangannya dengan erat, lalu dia memukulkan energi itu ke batu besar yang berada beberapa meter darinya.

Cahaya perak keluar berkilauan dari tangan Lynx, dengan cepat mengenai batu besar tersebut dan terjadi ledakan besar yang menghancurkan batu menjadi abu. Terlihat bekas hitam terbakar di sekitarnya.

Lala dan Mochi terbelalak kaget melihatnya dan tidak bisa berkata apa-apa.

“Terima kasih, Mochi. Dan kau juga, Lala. Aku tidak akan sampai sejauh ini tanpa kalian,” kata Lynx.

Mochi tersadar dari kekagetannya “Kau memiliki kekuatan luar biasa, Lynx. Aku yakin kamu akan menggunakannya untuk kebaikan.”

Lala hanya terdiam memandangi Lynx kagum,

Lynx mengangguk. Dia tahu bahwa latihan ini hanya awal dari perjalanan panjangnya, tetapi dia siap menghadapi tantangan apapun yang menantinya.



